BeritaHeadline

Mengenal Konflik Dalam Keluarga Batak

51
×

Mengenal Konflik Dalam Keluarga Batak

Sebarkan artikel ini
Gambar Ilustrasi

Oleh  : Ronsen Pasaribu, SH.MM.

BATAKINDONESIA.CO – Seorang sahabat, Dans Lumbantoruan, merespon tulisan catatan akhir tahun tentang berlibur yang dilakukan banyak orang atau keluarga. Beliau mengatakan betapa bahagianya bisa berlibur bersama keluarga, seperti yang dinarasikan itu. Apakah demikian semua?, ada saja keluarga yang tidak dapat berlibur oleh karena adanya kekurang kompakan dimana ada saja satu atau dua orang yang tidak mau bergabung karena satu dan lain hal.

Saya katakan, karena warisankah? Lajimnya tidak mengatakan banyak namun ada saja keluarga yang retak hanya gegara ketidak cocokan dalam pembagian warisan. Mungkin soal warisan nanti kita bahas, sebab menurut sahabat kita buka karena warisan, dimana warisan itu tidak mungkin dibagi karena budelnya sedikit dikampung halaman. Baiklah, mengingat bukan keahlianku soal psikologi keluarga, sejauh yang bisa diamati dan dirasakan dapatlah mencari di sumber lain, faktor apa saja pencetus konflik dalam keluarga.

Kezia Prasetya Christvidya, mengatakan ada 7 penyebab konflik dalam keluarga yang sering terjadi.Penyebab konflik terjadi dan jarang disadari, dalam lingkungan suami istri dan anak dimana diharapkan ada kedamaian,kenyamanan, karena keluarga adalah tempat berbagi cerita, tempat untuk pulang dan bertumbuh bersama.  Kita ambil poin-poinnya saja.

  1. Mulai belajar hidup dengan pasangan yang baru saja menikah. Ada kebiasaan suami istri yang harus disesuaikan. Mengatasinya, sebaiknya komunikasikan dengan baik dan kenali sikap masing-masing.
  2. Perbedaan penghasilan. Ini sering terjadi, terutama jika penghasilan istri lebih banuyak dari suami. Harga diri suami menurun. Sebaiknya si istri jangan sombong, tetaplah hormati sang suami dengan bijak demi keutuhan keluarga.
  3. Kelahiran anak. Ketidak hadiran anak, juga bisa sumber konflik. Solusi, lakukan pemeriksaan dan ambil langkah selanjutnya untuk memiliki anak, seperti bayi tabung sehingga anak tidak menjadi sumber konflik.
  4. Hadirnya orang ketiga. Umumnya gegara perselingkuhan, entah suami atau istri yang melakukannya. Solusinya diskusikan dengan jujur, hati yang tenang dan pikiran yang bersih sehingga masalah dapat diatasi dengan baik.
  5. Mertua yang ikut campur. Terjadi karena tinggal besama, sehingga hal kecil menjadi sumber pertengkaran. Solusinya, jangan tegur langsung mertua dengan kasar, tapi bicarakan dengan pasangan terlebih dahulu megnatasi konflik itu sampai terselesaikan.
  6. Anak merasa kurang kasih sayang. Hal ini sering terjadi karena anak ada beberapa orang dan tidak sama kasih sayang secara merata. Yang lain merasa kurang dan bisa penyebab konflik dalam keluarga. Solusi, luangkan waktu bermain dan berkomunikasi untuk mengetahui sikap dan kepribadian masing-masing.
  7. Saat Anak Memiliki Pasangan. Saat dimana anak mengenalkan calonnya tapi orangtua tidak setuju. Solusi, ajak komunikasi dengan baik, biarkan anak menjelaskan calonnya dan sebagai orangtua tidak boleh langsung menghakimi.

Ketujuh akar konflik ini tentu tidak semuanya ada pada keluarga yang kurang kompak seperti diawal diskusi ini. Tergantung pada kondisi keluarga masing-masing, berbeda satu dengan lainnya.

Namun secara teori penyebab konflik diatas, satu solusi yang umum adalah terletak pada komunikasi anggota keluarga yang perlu bahkan mutlak harus dibina agar satu dengan lainnya bisa berinteraksi dengan jujur, genuin, saling memberi dan menerima. Dengan demikian, jika kondisi itu tercapai maka agenda kebersamaan keluarga akan mudah terlaksana. Termasuk didalamnya, berlibur bersama melaksanakan agenda keluarga dalam perayaan keagamaan, misalnya Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Selamat berjuang bersama demi untuk kebahagiaan keluarga, sebab kebahagiaan itu tidak cukup dilihat dari keterpenuhan materi akan tetapi juga relasi (relationship) orangtua, orangtua dengan anak dan anak dengan anak bahkan dengan cucu. Begitu seterusnya, kekompakan sesama keluarga besar untuk derajat keatas, Bapatua, Bapa Uda, amangboru, Tulang dan pariban lainnya. (hubungan kekerabatan orang Batak) ***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *