BeritaHeadline

Sigolang yang Dirindukan: Ziarah, Pembelajaran, dan Harapan dari Kampung Halaman

40
×

Sigolang yang Dirindukan: Ziarah, Pembelajaran, dan Harapan dari Kampung Halaman

Sebarkan artikel ini
Keluarga besar Pasaribu dari Sigolang

SIGOLANG, BATAKINDONESIA.CO — Pulang ke kampung halaman selalu menghadirkan rasa yang tak tergantikan. Bagi para perantau, Sigolang bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan ruang kenangan, pembelajaran hidup, dan sumber harapan. Itulah yang dirasakan Ronsen Pasaribu bersama Pdt. Heller Pasaribu dan Boy Cabdidas Pasaribu saat melakukan ziarah sekaligus kunjungan kekeluargaan ke Sigolang pada 22–24 Januari 2026.

Ziarah menjadi tujuan utama kepulangan mereka. Namun lebih dari itu, kunjungan ini juga dimaknai sebagai momentum silaturahmi dengan keluarga besar yang setia menetap di Sigolang—mulai dari orang tua, kaum muda, hingga anak-anak. Kehangatan perjumpaan lintas generasi itu memperkuat ikatan batin antara perantau dan huta (kampung) yang selalu dirindukan.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, mereka juga berkumpul bersama Kelompok Tani Marhube Sigolang, sebuah komunitas warga yang selama setahun terakhir berupaya mengembangkan usaha perikanan kolam sebagai bentuk kemandirian ekonomi desa. Kebersamaan itu diwujudkan melalui makan bersama dengan menu hasil kolam yang telah dikelola selama satu tahun penuh.

Meski hasil panen belum memuaskan—ikan tidak mengalami pertumbuhan signifikan, bahkan sebagian sudah bertelur tanpa mencapai ukuran ideal—kegiatan tersebut justru menjadi ruang refleksi dan pembelajaran bersama. Diskusi pun berlangsung hangat, mencoba mencari penyebab dari kondisi tersebut.

Berbagai dugaan mengemuka, mulai dari kualitas bibit, kondisi air di Sabagsriang yang diduga kurang ideal, hingga ketidaksesuaian jenis ikan mas dengan lingkungan kolam. Padahal sejak awal, pengelolaan kolam telah menggunakan zat penetral keasaman dengan tingkat pH air disesuaikan pada angka 7, yang secara teori tergolong ideal untuk kehidupan ikan.

Dari diskusi tersebut, kelompok tani menarik kesimpulan sementara bahwa jenis ikan mas kurang cocok, serta kandungan oksigen (O₂) dalam air belum memadai. Meski secara ekonomi mengalami kerugian, para anggota kelompok tani sepakat bahwa pengalaman dan pembelajaran kolektif jauh lebih berharga.

“Pembelajaran itu mahal, dan semangat kerja sama juga mahal di zaman sekarang,” menjadi refleksi bersama yang menguatkan tekad mereka untuk terus berbenah.

Ke depan, Kelompok Tani Marhube Sigolang berencana mengganti jenis ikan serta memindahkan lokasi kolam ke wilayah Sabajulu dengan memanfaatkan sumber air yang langsung berasal dari Sungai Sigolang. Harapannya, langkah ini dapat memberikan hasil yang lebih baik sekaligus mendorong keberlanjutan usaha tani perikanan desa.

Selain diskusi serius, kepulangan ini juga diwarnai cerita-cerita sederhana yang sarat makna. Musim buah langsat dan durian menjadi pemantik nostalgia masa kecil—mengulang kenangan ketika buah-buah tersebut dinikmati bersama keluarga di halaman rumah. Langsat hasil petikan Budi Pasaribu bahkan dibawa sebagai oleh-oleh ke kota. Semua kebagian dan merasakan manis serta harum alami yang menjadi ciri khas buah Sigolang.

Durian pun tak kalah melengkapi kesan indah pulang kampung. Bagi para perantau yang tidak sempat pulang tahun ini, momen tersebut menjadi cerita yang “membuat menyesal tidak ikut kembali ke huta”.

Jembatan Sungai Sipange, hasil pembangunan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Di sisi lain, Sigolang kini juga memiliki objek kebanggaan baru, yakni Jembatan Sungai Sipange. Jembatan ini telah rampung dibangun dan kini memperlancar akses masyarakat menuju arah Tapus hingga Sipipngot. Infrastruktur tersebut merupakan hasil pembangunan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan memiliki kisah tersendiri karena Gubernur Sumut, Bobby Nasution, sempat bermalam di lokasi pembangunan sebagai bentuk dukungan dan penyemangat bagi para pekerja saat tahap awal pembangunan.

Jembatan ini tidak hanya menjadi sarana penghubung, tetapi juga simbol perhatian pemerintah terhadap daerah dan harapan baru bagi mobilitas serta pertumbuhan ekonomi masyarakat Sigolang.

Menutup rangkaian cerita pulang kampung ini, para perantau mengajak seluruh warga untuk terus mendoakan Sigolang agar tetap menjadi huta yang dirindukan, tempat yang selalu ingin dikunjungi kembali oleh anak-anak rantau, sekaligus memberi semangat bagi saudara-saudara yang setia tinggal dan membangun kampung halaman.***

Jakarta, 30 Januari 2026

RP     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *