BATAKINDONESIA.CO – Proses bisnis atau kegiatan pokok pekerjaan dapat berjalan sesuai tahapan pekerjaan dengan hasil optimal jika menunjukkan posisi keuangan yang untung, profitabilitas tinggi, jauh diatas BEP (Break Even Poin).
Tidak ada satu model pemberdayan yang sama, antara kegiatan satu dengan lainnya. Ini konsekwensi logis pemberlkuan pemilihan yang bottom up strategy. Sangat tergantung pada posisi bisnis pilihannya.
Apapun model pemberdayaan, maka titik singgungnya mengarah pada kemudanan petani untuk melaksanakan pilihan kegiatannya. Seperti halnya model pemberdayaan masyarakat dengan kerjasma antara PT ISM dan PTML di Sigompul, Humbang Hasundutan.
Model Oslyn br Pasaribu
Oslyn br Pasaribu memilih pengembangan tanaman talas sebagai objek kegiatan. Produk penanaman talas, berguna atas dua hal. Pertama, daunnya diiris-iris seperti tembakau, lalu dikeringkan dan dihimpun menjadi berbentuk karungkarung dengan kualitas kontrol yang ketat. Di eksport ke luar negeri untuk dijadikan bahan obat-obatan. Kedua, tanaman diakhir periode akan panen buah talas menjadi bahan makanan, di eksport juga. Jadi, daun dan buahnya semuanya bermamfaat.
Satu sisi, petani di organisir dalam satu kelompok tani, dimana petani adalah pemilik tanah dan pekerja dibawah bimbingan menejemen Oslyn Pasaribu.
Tanah selama ini terlantar, dapat diefektifkan menjadi kebun talas. Selama ini talas hanya gulma tak berguna bagi masyarakat, namun peluang ini dengan jeli dimanfaatkan Oslyn untuk hal bermanfaat bagi masyarakat. Kecocokan tanah untuk talas, sudah cocok sejak beberapa dekade lalu. Mudah mengembangkan dari sisi kecocokan dengan tanahnya. Prinsip pemetaan sosial, dilakukan pada awal perencanaan dalam model Oslyn br Pasaribu.
Kerjasama dengan masyarakat secara tertulis, menejemen Oslyn berbagi tanggung jawab dengan menyiapkan bibit, pupuk dan membeli daun dan buah talas. Kerjasama ini dituangkan dalam perjnjian hitam diatas putih memakai meterai. Sebuah kesetaraan yang egaliter, saling menghargai dan saling mengkaui hak dan kewajiban masing-masing.
Harga yang disepakati dan dituangkan dalam surat perjanjian dengan besaran yang tidak fixed tetapi bergerak sesuai harga aktual. Sifatnya juga transparansi, harga tidak dapat ditutup tutupi, masyarkat justru lebih awal tahu berapa harga pasarnya.
Saat panen tiba, hasil produksi diantar ke satu titik pabrik pemotongan daun, saat ini sudah ada 10 (sepuluhan) pabrik diberbagai tempat. Lokasi kelompok tani sudah ada di Dairi, Phakphak Barat, Tapanuli Utara diberbagai Kecamatan termasuk Garoga , Humbang Hasundutan, Simalungun. Secara agregat sudah ada lebih 100 hektar yang sedang dikembangkan sampai saat ini.
Oslyn br Pasaribu, menyenangi bisnis baru ini, karena berpeluang untuk mendapatkan margin juga dirasakan manfaatnya bagi petani di Bonapasogit. Nilai plusnya adalah model pemberdayaan ini menjadi peluang baru bagi petani. Harapan baru untuk mendapatkan keuntungan jenis kegiatan baru dan keuntungan dapat digunakan memperluas lahan dan dapat juga membuka usaha baru selain talas. Sebelumnya, Oslyn br Pasaribu bisnisnya dibidang Pelayanan Kesehatan di RS Penang Malaysia, semuanya karena Covid 19, membuka bisnis baru dibidang Pemberdayaan Masyarakat di Bonapasogit.
Sisi masyarakat itulah tujuan ideal FBBI. mendampingi masyarakat agar mereka mampu mandiri dengan usaha mandiri pula, tentu dengan kegiatan Bapak Angkat yang dikembangkan seperti model Oslyn Pasaribu ini.
Selamat dan sukses ibu Oslyn Pasaribu, semangat terus merealisasikan visi, missi Forum Bangso Batak Indonesia. Kita berkarya,tanpa banyak berkata-kata. Biarlah tugas saya, Ketum FBBI menyuarakan model-bodel yang kita kembangkan menuju Bangso Batak yang maju dan mandiri. (RP)











