JAKARTA, BATAKINDONESIA.CO – Menyambut pergantian tahun bukan sekadar menunggu perubahan angka di kalender. Di Huta Sigolang, momen 31 Desember telah lama menjadi tradisi sakral yang sarat makna, penuh sukacita, kebersamaan, dan penghayatan iman yang mendalam.
Sejak pagi hari, suasana kampung sudah terasa berbeda. Semua orang sibuk dengan perannya masing-masing. Para bapak, inang, hingga anak-anak terlibat aktif mempersiapkan segala sesuatu agar perayaan Tahun Baru menjadi momen yang membahagiakan bagi seluruh keluarga. Anak-anak tampak bersemangat menanti saat mengenakan baju baru, simbol harapan dan sukacita menyambut tahun yang baru.
Di dapur, para inang dengan penuh kasih menyiapkan hidangan terbaik keluarga. Menu khas seperti dekke (ikan), ayam, dan daging menjadi sajian utama. Bahkan, karena sulitnya membeli daging, masyarakat Sigolang memiliki tradisi gotong royong membeli seekor sapi secara bersama-sama, yang dikenal dengan istilah marbinda. Tradisi ini bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang kebersamaan dan saling menopang satu sama lain.
Tanggal 1 Januari bukan hari biasa. Makan bersama di hari pertama tahun baru adalah momen wajib yang dinikmati seluruh keluarga dalam suasana penuh sukacita. Tawa, cerita, dan doa bercampur menjadi satu, menguatkan ikatan kekeluargaan yang telah terjalin turun-temurun.
Sementara itu, para bapak sejak pagi hari juga disibukkan dengan kegiatan mengambil bambu. Tujuannya satu: membuat lomang, makanan khas yang proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong. Pekerjaan ini melibatkan bapak, inang, hingga para remaja atau naposo. Kebersamaan lintas generasi inilah yang membuat suasana akhir tahun di Sigolang terasa begitu hidup dan bermakna.
Sukacita juga terasa kuat di gereja. Pendeta, sintua, dan seluruh parhalado sibuk mempersiapkan ibadah akhir tahun. Di sana akan disampaikan laporan pelayanan sepanjang tahun, serta mandok hata yang mewakili ama, inang, dan seluruh pelayan gereja. Jemaat berkumpul tanpa memandang usia, semua menantikan satu momen yang paling dinanti.
Detik-detik peralihan pukul 24.00 WIB, saat Tahun 2025 berganti menjadi 2026, menjadi saat yang sangat istimewa. Secara kasat mata, perubahan itu hanyalah pergantian angka. Namun secara rohani, momen tersebut diyakini sebagai bukti nyata penyertaan dan berkat Tuhan bagi setiap jemaat.
Di HKBP Sigolang, ada tradisi unik yang penuh makna. Jika lonceng gereja biasanya hanya dibunyikan pada jam ibadah atau saat ada warga jemaat meninggal dunia, maka pada malam Tahun Baru lonceng dibunyikan secara sah dan terus-menerus. Lonceng itu berdentang tanpa henti sejak pukul 24.00 hingga pagi hari pukul 07.00 WIB. Setiap orang bergantian membunyikannya, sebagai simbol sukacita, syukur, dan pengharapan akan tahun yang baru.
Pagi hari, dentang lonceng berhenti. Bukan karena lelah, melainkan karena seluruh jemaat bersiap menikmati makan bersama dan berganti pakaian untuk mengikuti ibadah syukuran Tahun Baru. Suasana kampung semakin meriah dengan bunyi petasan, mariam bambu, serta tradisi saling bertukar kue Tahun Baru. Yang paling indah, kue-kue tersebut juga dibagikan kepada saudara-saudara umat Muslim sebagai wujud toleransi dan persaudaraan antarumat beragama.
Tradisi ini adalah warisan berharga, sebuah memorial iman dan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan hingga generasi mendatang. Semua yang terjadi bukan sekadar kenangan, melainkan motivasi untuk terus hidup dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan.
Memasuki tahun 2026, setiap pribadi tentu memiliki janji, nazar, dan harapan masing-masing. Penulis, RP, secara pribadi berharap agar di tahun 2026 dapat bertumbuh dalam keberanian: berani menggunakan bahasa lain selain bahasa Indonesia, berani berbicara dengan jujur dan benar, berani bertransformasi, berani berekspresi dalam seni dan budaya, serta berani menerima koreksi. Sebuah perjalanan panjang yang terus diupayakan.
Pada akhirnya, makna keberhasilan bukanlah tentang tidak pernah gagal, melainkan tentang terus berjuang. Mereka yang berhasil adalah mereka yang tidak berhenti melangkah. Seperti moto yang selalu dipegang: Ora et Labora, Alpha dan Omega.
Selamat dan salam hangat kepada seluruh jemaat Sigolang, sahabat, dan saudara di mana pun berada.
Salam di penghujung tahun 2025, dan selamat menyongsong 1 Januari 2026.***
Cengkareng, Jakarta Barat, 31 Desember 2025
Ronsen Pasaribu (Op.Marcia)











