BeritaHeadline

Kembalinya Kejayaan Ekonomi Sigolan

2
×

Kembalinya Kejayaan Ekonomi Sigolan

Sebarkan artikel ini
: Ronsen LM Pasaaribu. (Foto/Ronsen)

JAKARTA, BATAKINDONESIA – Kabar yang paling menggembirakan dari Bona Pasogit akhir-akhir ini adalah mulai beroperasinya kembali angkutan umum reguler rute Padangsidimpuan–Sigolang. Bus berkapasitas setara L300 ini melayani perjalanan sekali setiap hari, berangkat pukul 08.00 WIB dari Padangsidimpuan dan tiba di Sigolang sekitar pukul 16.00 WIB.

Bagi sebagian orang, kehadiran angkutan ini mungkin hanya dipandang sebagai bertambahnya satu jalur transportasi. Namun, bagi saya yang lahir dan besar di kawasan ini, bus tersebut merupakan simbol kebangkitan. Ia mengingatkan saya pada jasa angkutan legendaris seperti Subual Buali yang sejak puluhan tahun silam menjadi pelopor transportasi di Tapanuli Selatan, menembus medan berat yang tidak semua kendaraan sanggup melaluinya.

Saya adalah salah satu saksi hidup yang menyaksikan bagaimana Sigolang pernah mencapai masa kejayaan ekonominya. Sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia, Sigolang telah menjadi desa yang lebih maju dibandingkan wilayah-wilayah di sekitarnya. Desa-desa penyangga seperti Sipange, Biru, Sipagabu hingga Tapus menjadikan Sigolang sebagai pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan.

Ukuran kemajuan itu terlihat jelas setiap hari Kamis, saat berlangsung hari pekan. Ribuan warga dari berbagai desa berdatangan. Pasar menjadi lautan manusia. Hampir tidak ada ruang kosong untuk sekadar duduk. Para pedagang memenuhi setiap sudut lapak, menjajakan kebutuhan pokok, peralatan pertanian, pakaian, hingga aneka barang kelontong.

Kini, bangunan los pasar yang mulai kusam dan kurang terawat masih berdiri sebagai saksi bisu kejayaan ekonomi Sigolang di masa lalu. Di balik dinding-dinding tuanya tersimpan cerita tentang denyut perdagangan yang pernah menghidupi masyarakat dari berbagai penjuru.

Transportasi Penentu Kemajuan

Dalam teori pembangunan, salah satu indikator utama kemajuan suatu daerah adalah akses transportasinya. Daerah yang mudah dijangkau akan lebih cepat berkembang dibandingkan wilayah yang terisolasi.

Pada era 1960-an hingga 1970-an, transportasi di Sigolang masih sangat sederhana. Mobilitas masyarakat sepenuhnya mengandalkan kuda beban atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai kudo boban. Hewan inilah yang mengangkut hasil pertanian sekaligus menjadi alat transportasi utama menuju pasar.

Saya masih mengingat dengan jelas suasana setiap hari Kamis. Lapangan sepak bola dipenuhi puluhan bahkan ratusan kuda beban yang menunggu pemiliknya selesai berbelanja atau menjual hasil panen di pekan. Pemandangan itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sigolang pada masa tersebut.

Seiring berjalannya waktu, perubahan mulai terjadi. Era mekanisasi perlahan menggantikan peran tenaga hewan. Truk mulai memasuki desa. Kendaraan roda empat dimiliki sebagian warga, bahkan ada yang memiliki lebih dari satu unit. Sepeda motor—yang oleh masyarakat setempat lazim disebut kereta—kini hampir tersedia di setiap rumah.

Perubahan ini bukan sekadar pergantian alat transportasi. Ia merupakan indikator meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Hasil kebun dan sawah kini dapat diangkut dengan kendaraan bermotor sehingga pekerjaan menjadi lebih cepat, hemat tenaga, dan lebih efisien. Produktivitas meningkat, biaya angkut menurun, dan akses masyarakat terhadap pasar menjadi semakin baik.

Bus Reguler, Harapan Baru

Karena itu, hadirnya kembali angkutan reguler Padangsidimpuan–Sigolang memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar layanan transportasi. Jalur ini akan membuka akses ekonomi yang lebih luas, memperlancar arus barang dan jasa, memudahkan mobilitas masyarakat, serta memperkuat hubungan sosial antardaerah.

Kemudahan akses juga akan memberi dampak positif bagi sektor pendidikan, kesehatan, perdagangan, bahkan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Sigolang akan semakin terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan para leluhur.

Tidak berlebihan jika kehadiran kembali transportasi reguler ini dipandang sebagai awal kebangkitan ekonomi Sigolang. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap daerah yang memiliki akses transportasi yang baik akan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang.

Masyarakat Sigolang patut menyambut momentum ini dengan optimisme. Pemerintah pun diharapkan terus meningkatkan kualitas infrastruktur jalan agar layanan transportasi dapat berlangsung secara berkelanjutan. Dengan demikian, roda ekonomi akan kembali berputar, investasi akan tumbuh, dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.

Selamat datang era transportasi modern. Selamat tinggal masa ketika kuda beban menjadi satu-satunya harapan mobilitas masyarakat. Semoga langkah kecil berupa hadirnya kembali bus reguler ini menjadi awal dari kembalinya kejayaan ekonomi Sigolang.***

Jakarta, 30 Juli 2026

Oleh : Ronsen LM Pasaaribu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *