Oleh: St. Ronsen Pasaribu (Ompu Maecia)
BATAKINDONESIA.CO – Banyak anak Sekolah Minggu HKBP Simangambat seusai saya—bahkan mungkin generasi di bawah saya. Jika kita menyebut Gereja HKBP Simangambat, lembar-lembar kenangan lama pasti perlahan terbuka di alam bawah sadar kita. Kenangan yang sempat tenggelam, terkubur oleh waktu—waktu yang sangat panjang, bahkan telah berlalu beberapa dekade.
Desember 2025 ini, ingatan saya melayang jauh ke belakang, ke masa saya duduk di bangku SD kelas 5–6 hingga SMP kelas 1–3, sekitar tahun 1971–1973. Jika ditarik lebih awal, masa SD saya dimulai sejak 1969. Wah, lama sekali ya. Mungkin sebagian pembaca bahkan belum lahir di masa itu.
Tulisan ini hanyalah secuil pengalaman pribadi, namun saya yakin banyak yang memiliki rasa dan cerita yang sama.
Saya adalah anak Sigolang, bersekolah di SD Negeri 1 Simangambat. Guru saya waktu itu adalah Inang Udaku, T. br. Dongoran (alm.), istri Udaku—abang kembar ayah saya, BT Pasaribu. Udaku sendiri adalah guru SMP Simangambat yang sangat disegani karena kedisiplinannya.
Sebagai anak, di rumah saya disayang. Namun di sekolah, jangan harap ada perlakuan istimewa. Salah tetap salah, dan hukuman tetap berlaku. Disiplin adalah harga diri.
Udaku St. P. Pasaribu juga adalah sintua di HKBP Simangambat. Kami tinggal bersama di rumah Udaku—saya, kakak saya Yeanne, dan beberapa keluarga lain yang semuanya bersekolah di Simangambat.
Salah satu memori yang paling melekat di hati adalah “curi-curi waktu” bermain organ gereja.
Organ gereja saat itu adalah barang istimewa. Organ pompa angin, dimainkan dengan ayunan kaki—kalau tidak salah mereknya Yamaha. Saya tidak pernah belajar secara resmi. Hanya mencuri-curi pandang setiap kali Udaku memainkannya. Dalam hati saya selalu berkata, “Hebat kali Udaku ini.” Tapi untuk minta diajari, saya tidak berani.
Akhirnya muncul niat nekat: belajar sendiri.
Setiap Minggu pagi, gereja masih kosong. Setelah mandi di sungai atau pancuran, saya berlari menyelinap ke gereja. Duduk di depan organ itu dan mulai memencet tuts seadanya. Satu jari saja: do–re–mi–pa–do–la–si–do. Diulang-ulang, tak kenal lelah.
Lama-kelamaan, satu suara jadi dua suara. Lalu mulai berani menekan bas, suara empat. Dari situlah saya mulai bisa mengiringi lagu-lagu gereja. Apalagi di rumah kami di Sigolang juga ada organ pompa angin.
Itulah awal mula saya bisa bermain organ—sebuah kenangan yang tak pernah pudar, meski kini organ listrik sudah jauh lebih canggih.
Memori lain yang tak kalah kuat adalah masa belajar sidi. Kami diajar oleh Pdt. Dongoran (alm.) untuk menghafal Sepuluh Perintah Allah, Doa Bapa Kami, Haporseaon, dan pelajaran iman lainnya.
Semua itu sangat mengesankan, meskipun secara fisik kami hidup sangat bersahaja: tanpa sepatu, baju sederhana, celana pendek, dan tanpa uang jajan. Namun iman kami ditempa dengan kuat.
Gedung Gereja HKBP Simangambat sendiri, jika dihitung, mungkin sudah berusia hampir 100 tahun. Setidaknya sejak saya menjadi anak Sekolah Minggu di tahun 1970, sudah lebih dari lima dekade berlalu. Maka sangatlah wajar bila kini gereja itu direhabilitasi dan diperbarui.
Melalui memorabilia ini, saya hanya ingin menyambung kembali benang kenangan—agar menjadi energi dan semangat membangun HKBP Simangambat ke depan, gereja yang sarat memori, iman, dan pengharapan.
Secara teologis, rumah Tuhan adalah Tubuh Kristus. Kitab Wahyu pasal 1 dan 2 mengajarkan bahwa sejak gereja mula-mula, perpecahan dan tantangan sudah ada. Bahkan muncul ajaran-ajaran yang menyesatkan, seperti pengikut Nikolaus dan ajaran Bileam.
Rasul Yohanes, dari Pulau Patmos, menasihati dan meluruskan jemaat agar tetap setia pada ajaran Kristus (Wahyu 2:6).
Kiranya Gereja Tuhan—di Simangambat, Sigolang, Sipagimbar, Ulumamis, dan di mana pun—terhindar dari ajaran hedonisme, materialisme, sikap menonjolkan diri, serta segala hal yang tidak berkenan kepada Tuhan.
Marilah kita tetap rendah hati dan tulus, menjadikan Kristus sebagai pusat dan fokus kehidupan kita.
Demikian catatan akhir tahun 2025 ini.
Selamat Natal 2025 dan selamat menyongsong Tahun Baru 2026
untuk seluruh jemaat HKBP Simangambat,
dan secara khusus untuk
Amang Pdt. F. Siagian dan Inang Pdt. L. Silalahi.
Horas. 🙏











