BeritaHeadline

Selayang Pandang Desa Sigolang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Harapan di Balik Bukit Barisan

38
×

Selayang Pandang Desa Sigolang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Harapan di Balik Bukit Barisan

Sebarkan artikel ini
Desa si Golang.

SIGOLANG, BATAKINDONESIA.CO – Desa Sigolang merupakan salah satu desa di Kecamatan Aek Bila, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kecamatan Aek Bila sendiri merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Saipar Dolok Hole dengan ibu kota Sipirok. Desa ini terdiri atas dua dusun, yakni Dusun Sigolang dan Dusun Sipange, yang terletak tersembunyi di balik perbukitan Bukit Barisan, menghadirkan lanskap alam yang asri dan menenangkan.

Di tengah desa-desa lain yang berlomba menampilkan kemajuan pembangunan fisik, Sigolang justru menawarkan kekayaan lain yang tak kalah berharga: keindahan alam yang masih alami serta tradisi sosial yang kuat, khususnya dalam hal toleransi antarumat beragama. Harmoni kehidupan masyarakat di desa ini telah terbangun sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun.

Desa Sigolang menyimpan kenangan mendalam bagi warganya, baik yang menetap maupun yang telah merantau ke berbagai daerah, bahkan ke luar negeri. Sejak masa penjajahan Jepang, Sigolang telah dikenal sebagai desa pendidikan. Sekolah Rakyat telah berdiri di desa ini dan menjadi pusat pendidikan bagi anak-anak Sigolang serta desa-desa di sekitarnya hingga masa awal kemerdekaan Indonesia.

Seiring waktu, Sekolah Rakyat tersebut berkembang menjadi Sekolah Dasar Negeri (SD Negeri Sigolang) yang menyelenggarakan pendidikan dari kelas satu hingga kelas enam. Dari bangku sekolah inilah lahir banyak putra-putri Sigolang yang kemudian berkiprah di berbagai bidang, seperti guru, hakim, pegawai negeri, anggota TNI, Polri, hingga pengusaha.

Salah satu putra terbaik Sigolang yang tercatat dalam sejarah nasional adalah Patuan Oloan Pasaribu, seorang pejuang kemerdekaan yang telah ditetapkan secara resmi oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Sosial. Semasa hidupnya, ia dikenal tinggal di Jalan Abdullah Lubis No. 8, Medan.

Adat Istiadat dan Harmoni Sosial

Dalam kehidupan sosial, adat istiadat di Sigolang berjalan dengan tertib dan penuh wibawa. Segala urusan adat, baik dalam suasana suka maupun duka, dipimpin oleh Raja Panusunan Bulung yang diketuai oleh Raja Pasaribu secara turun-temurun. Hampir tidak pernah terdengar konflik berarti dalam pelaksanaan adat, karena masyarakat menjunjung tinggi nilai musyawarah dan kearifan lokal.

Bahkan, peradilan adat masih dijalankan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tertentu, baik pelanggaran ringan maupun berat, sebagai bagian dari mekanisme sosial yang menjaga ketertiban dan keharmonisan desa.

Salah satu kekayaan sosial Desa Sigolang adalah tradisi silaturahmi lintas agama yang terus terjaga hingga kini. Pada perayaan hari-hari besar keagamaan—seperti Natal dan Tahun Baru bagi umat Kristiani, serta Idul Fitri bagi umat Islam—masyarakat saling berkunjung dan berbagi makanan.

Hidangan khas seperti lomang, lappet, panggelong, alame (dodol), dan berbagai makanan tradisional lainnya menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi kebahagiaan, tetapi juga menjadi perekat sosial yang patut dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Secara geografis, Sigolang menyatu dengan deretan desa-desa lain yang berada di kaki gunung dan lembah. Perjalanan menuju Sigolang menyuguhkan panorama alam yang menawan. Dari Bandara Silangit, perjalanan dapat ditempuh melalui jalan provinsi menuju Tarutung (ibu kota Tapanuli Utara), dilanjutkan ke Pangaribuan, Silantom Julu, Silantom Tonga, Silantom Jae, Dampran, Lobu Sinaongan, Simangambat, Simanosor, Sidapdap, hingga Sipagimbar.

Dari Sipagimbar, jalan mulai meliuk-liuk menanjak dan menurun melewati pegunungan, melintasi Desa Simoleole, Situnggaling, Ulumamis, Tolang, Biru (ibu kota Kecamatan Aek Bila), hingga akhirnya tiba di Sigolang. Jika perjalanan diteruskan ke arah selatan, akan dijumpai Dusun Sipange, Sipagabu, Tapus, dan Sipiongot yang merupakan wilayah Tapanuli Utara.

Sepanjang perjalanan, hamparan hutan, kebun kopi dan karet, serta pepohonan buah seperti langsat dan petai memanjakan mata. Dua sungai utama, yakni Sungai Sigolang dan Sungai Sipange, menjadi sumber kehidupan masyarakat—mengairi sawah sekaligus menjadi tempat mencari ikan. Bagi para perantau, sungai-sungai ini menyimpan kenangan masa kecil: mandi, memancing, dan menjala ikan bersama teman sebaya.

Meski kaya akan alam dan budaya, Desa Sigolang masih menghadapi tantangan serius dalam hal infrastruktur. Dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun terakhir, kondisi jalan relatif belum banyak berubah. Sebagai jalan provinsi, kondisinya cukup memprihatinkan—aspal terkelupas dan di beberapa titik kembali menjadi tanah liat.

Pada musim kemarau, kendaraan dengan kapasitas mesin sekitar 2.000 cc masih dapat melintas dengan hati-hati. Namun saat hujan turun, kondisi jalan menjadi licin dan rawan. Kendaraan lokal jenis Sibual-buali, yang rutin melayani rute Padangsidimpuan–Sigolang–Biru (hingga simpang tiga), bahkan selalu membawa dedak, pasir, dan tali sebagai antisipasi jika kendaraan terjebak di jalan.

Jembatan Sipange dan Harapan Baru

Salah satu perkembangan yang patut diapresiasi adalah selesainya pembangunan Jembatan Sungai Sipange di Sigolang. Jembatan ini menjadi sangat penting mengingat sungai tersebut pernah menelan korban, ketika sebuah kendaraan hanyut bersama penumpangnya saat arus mudik Lebaran menuju Tapus beberapa tahun lalu.

Peristiwa tragis itulah yang diyakini mendorong perhatian serius Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, bahkan menjadikan pembangunan jembatan ini sebagai prioritas, dengan melakukan road show dan bermalam satu malam di pinggir sungai, menempuh rute dari Sipiongot, Sigolang, hingga kembali ke wilayah Tapanuli Utara.

Saat ini, jembatan telah selesai dibangun dan tinggal menunggu pengerjaan rabat beton sepanjang sekitar satu kilometer di kedua ujungnya. Kehadiran jembatan ini tidak hanya memperlancar akses transportasi, tetapi juga membuka peluang baru sebagai objek wisata lokal bagi masyarakat Kecamatan Aek Bila.

Seiring waktu, sejumlah fasilitas umum mulai menggeliat. Balai kesehatan telah berdiri di pinggir lapangan sebelah timur desa. Gereja, masjid, serta bangunan Sekolah Dasar juga terus berbenah, mempercantik diri dan memperkuat perannya dalam kehidupan masyarakat.

Rindu dan Harapan Para Perantau

Bagaimanapun kondisi dan tantangan yang dihadapi, Desa Sigolang tetap menjadi tempat yang selalu dirindukan oleh para perantau. Mereka yang kini tersebar di berbagai kota di Indonesia, bahkan di luar negeri, menyimpan harapan besar agar desa ini terus berkembang—baik dari sisi pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, maupun penguatan ekonomi masyarakat di bidang pertanian, perdagangan, dan kebudayaan.

Catatan ini ditulis sebagai refleksi pribadi penulis saat pulang kampung pada 19–22 Januari 2026, dalam rangka ziarah rutin dan silaturahmi bersama keluarga di Desa Sigolang.

Jakarta, 30 Januari 2026

Ronsen L.M. Pasaribu (RP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *