Oleh : Feber Manalu, Ketua Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI)
JAKARTA, BATAKINDONESI – Kepergian Kamaruddin Simanjuntak meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang. Sejak kabar berpulangnya sosok yang dikenal berani, vokal, dan gigih memperjuangkan keadilan itu tersiar, jagat media sosial dipenuhi ungkapan belasungkawa, kenangan, serta penghormatan dari berbagai kalangan.
Bagi sebagian orang, Kamaruddin Simanjuntak dikenal sebagai pengacara yang berani bersuara dan berdiri di garis depan dalam memperjuangkan keadilan. Namun, bagi Feber Manalu (FM), host program SangMANTAN di Wahana TV, Kamaruddin bukan sekadar sosok publik yang namanya dikenal luas. Ia adalah sahabat lama, teman seperjalanan dalam dunia seni, rekan berdiskusi tentang hukum dan politik, sekaligus pribadi yang menyimpan banyak kenangan dalam perjalanan hidupnya.
Kepergian sahabat yang telah dikenalnya jauh sebelum namanya melambung di panggung nasional itu menjadi kehilangan tersendiri bagi Feber. Terlebih, sebelum kabar duka tersebut datang, ia masih menyimpan rencana untuk menghadirkan Kamaruddin sebagai tamu dalam podcast yang dipandunya.
Namun, rencana itu kini tinggal kenangan. Pertemuan yang diharapkan dapat menghadirkan obrolan hangat, cerita masa lalu, serta pandangan Kamaruddin tentang berbagai persoalan bangsa tidak lagi mungkin terwujud.
“Sejujurnya saya sangat berduka atas kepergian beliau. Sebelumnya, saya sudah berencana menghadirkan almarhum Kamaruddin Simanjuntak sebagai tamu di podcast saya. Saya ingin kembali berbincang dengannya, mengenang perjalanan kami, sekaligus mendengar pandangannya tentang berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini. Tetapi, takdir berkata lain. Kita hanya bisa mengenang apa yang pernah beliau lakukan semasa hidupnya,” ungkap Feber Manalu dengan nada haru, Rabu (21/10/2026).
Persahabatan yang Berawal dari Dunia Seni
Feber Manalu mengaku telah mengenal Kamaruddin Simanjuntak jauh sebelum sosok tersebut menjadi figur yang kerap menghiasi pemberitaan nasional. Persahabatan mereka tumbuh dari dunia seni, sebuah ruang perjumpaan yang mempertemukan keduanya melalui musik, pergaulan, dan berbagai kegiatan bersama.
Pada masa itu, Kamaruddin tidak hanya dikenal sebagai pribadi yang memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat, tetapi juga sebagai sosok yang menikmati seni dan kebersamaan. Mereka beberapa kali tampil dan bernyanyi bersama dalam berbagai kegiatan, baik acara formal maupun nonformal.

Bagi Feber, kenangan bernyanyi bersama itu menjadi hal yang penting dari perjalanan persahabatan mereka. Di tengah kesibukan dan berbagai dinamika kehidupan, dunia seni menjadi salah satu ruang yang mempertemukan mereka tanpa sekat profesi maupun status sosial.
“Jauh sebelum beliau sepopuler sekarang, kami sudah saling mengenal. Kami sering bernyanyi bersama dalam berbagai acara, baik formal maupun nonformal. Dari situlah hubungan pertemanan kami terjalin dan terus berlanjut,” kenang Feber.
Persahabatan itu kemudian berkembang ke ruang yang lebih luas. Tidak hanya bertemu dalam kegiatan seni, keduanya juga mulai terlibat dalam diskusi, seminar, dan berbagai kegiatan yang membahas persoalan sosial, politik, hukum, serta kebudayaan.
Bagi Feber, Kamaruddin merupakan pribadi yang memiliki banyak sisi. Di balik ketegasannya ketika berbicara tentang hukum dan keadilan, terdapat sisi lain yang akrab dengan seni, terbuka dalam pergaulan, serta memiliki kepedulian terhadap kegiatan sosial dan kebudayaan.
Menjadi Bagian dari Perjalanan Awal Talkshow
Salah satu kenangan yang masih melekat dalam ingatan Feber adalah ketika ia mengundang Kamaruddin menjadi narasumber dalam acara talkshow bertajuk Horas Bangso Batak, sekitar 2015.
Saat itu, program tersebut menjadi salah satu cikal bakal kegiatan talkshow melalui siaran langsung berbasis live streaming yang dirintis Feber. Kehadiran Kamaruddin dalam acara tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal mereka memanfaatkan media sebagai ruang bertukar gagasan dan menyampaikan pandangan kepada masyarakat.
Dalam perbincangan itu dan berbagai pertemuan berikutnya, hubungan mereka tidak hanya sebatas pembawa acara dan narasumber. Keduanya dapat bertukar pikiran, membahas persoalan masyarakat, serta berbicara tentang identitas dan kebudayaan Batak yang menjadi salah satu perhatian bersama.
Pertemanan mereka pun berlanjut dalam sejumlah seminar dan diskusi kebudayaan. Kamaruddin juga beberapa kali terlibat dalam kegiatan panggung musik, memperlihatkan bahwa dirinya tidak hanya berkutat pada persoalan hukum, tetapi juga memiliki ketertarikan terhadap seni dan kehidupan sosial.
“Banyak kegiatan yang pernah kami lalui bersama. Selain dunia seni, kami juga bertemu dalam acara seminar, diskusi budaya, dan berbagai kegiatan lainnya. Kalau sudah berbicara tentang sesuatu yang menarik perhatiannya, terutama hukum, politik, dan budaya Batak, beliau bisa sangat antusias,” tutur Feber.
Kenangan-kenangan tersebut membuat Feber melihat Kamaruddin bukan semata-mata dari popularitas yang kemudian diraihnya. Ia mengenal sosok itu dari perjalanan panjang, ketika keduanya masih berproses dan membangun aktivitas masing-masing.
Persahabatan Feber Manalu dan Kamaruddin Simanjuntak juga pernah membawa keduanya pada pembicaraan mengenai dunia politik praktis.
Feber mengungkapkan, mereka sempat memiliki rencana untuk ikut berkontestasi dalam Pilkada 2018. Ketika itu, keduanya pernah membicarakan kemungkinan terjun langsung ke dunia politik dengan harapan dapat mengambil bagian dalam proses perubahan dan pengabdian kepada masyarakat.
Namun, rencana tersebut akhirnya tidak dilanjutkan. Menurut Feber, situasi politik ketika itu, terutama kekhawatiran terhadap praktik politik uang yang dinilainya masih marak, menjadi salah satu pertimbangan mereka untuk mengurungkan niat tersebut.
Bagi Feber, pengalaman itu menjadi bukti bahwa persahabatan mereka tidak hanya dibangun melalui kegiatan seni dan pertemuan sosial, tetapi juga melalui pertukaran gagasan mengenai masa depan dan persoalan bangsa.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2023, Feber kembali mengingatkan Kamaruddin mengenai kemungkinan mengikuti kontestasi Pilkada.
Ia masih mengingat dengan jelas jawaban Kamaruddin ketika pembicaraan itu kembali muncul.
“Pada 2023, saya kembali menanyakan apakah beliau masih tertarik ikut Pilkada. Dengan penuh percaya diri, beliau menjawab, ‘Tapi harus menanglah, Lae,’ dengan logat Bataknya yang sangat kental,” kenang Feber sambil tersenyum mengingat percakapan tersebut.
Jawaban sederhana itu, bagi Feber, menggambarkan karakter Kamaruddin yang tegas, penuh keyakinan, dan tidak setengah-setengah ketika membicarakan sesuatu.
Meski demikian, rencana tersebut kembali tidak terwujud. Kesibukan Kamaruddin yang semakin padat menjadi salah satu kendala. Pada saat bersamaan, Feber juga menghadapi persoalan kesehatan dan finansial setelah pandemi Covid-19, sehingga perhatian dan energinya harus terbagi untuk menyelesaikan berbagai persoalan pribadi.
Akhirnya, rencana yang pernah mereka bicarakan itu kembali menjadi bagian dari cerita masa lalu yang kini hanya dapat dikenang.
Nama Kamaruddin Simanjuntak semakin dikenal luas oleh masyarakat setelah keterlibatannya dalam penanganan kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yang menyita perhatian publik.
Peristiwa tersebut membuat Kamaruddin berada di tengah sorotan nasional. Pernyataan-pernyataannya dalam berbagai kesempatan, keberaniannya menyampaikan pandangan, serta keterlibatannya dalam proses hukum menjadikan namanya semakin dikenal masyarakat.
Seiring meningkatnya popularitas dan kesibukannya, kesempatan Feber untuk bertemu langsung dengan sahabatnya itu semakin terbatas.
Jika dahulu mereka masih dapat meluangkan waktu untuk bernyanyi bersama, berdiskusi, atau sekadar duduk santai menikmati kopi, situasi kemudian berubah. Jadwal Kamaruddin yang semakin padat membuat pertemuan langsung tidak lagi mudah dilakukan.
Meski demikian, hubungan persahabatan mereka tidak sepenuhnya terputus. Komunikasi tetap terjalin melalui telepon genggam dan media sosial.
Bagi Feber, kedekatan sejati tidak selalu harus diukur dari seberapa sering seseorang bertemu secara langsung. Ada persahabatan yang tetap terpelihara meskipun jarak, kesibukan, dan perubahan keadaan membuat pertemuan menjadi semakin jarang.
Ia memahami bahwa Kamaruddin memiliki tanggung jawab dan aktivitas yang semakin besar. Karena itu, keterbatasan waktu untuk bertemu tidak serta-merta menghapus kenangan maupun ikatan persahabatan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
“Setelah nama beliau semakin dikenal luas, kesibukannya memang meningkat. Untuk sekadar ngopi bersama pun semakin sulit. Tetapi, komunikasi tetap berjalan melalui gawai dan media sosial. Bagi saya, yang terpenting adalah hubungan persahabatan itu tetap terjaga,” ujarnya.
Sosok yang Antusias Membicarakan Hukum, Politik, dan Budaya Batak
Sepanjang mengenal Kamaruddin Simanjuntak, Feber menilai sahabatnya itu sebagai pribadi yang memiliki antusiasme tinggi terhadap berbagai persoalan, terutama hukum, politik, seni, dan kebudayaan.
Menurut Feber, ketika pembicaraan menyentuh persoalan hukum dan keadilan, Kamaruddin dapat menunjukkan perhatian yang besar. Ia juga memiliki ketertarikan terhadap dinamika politik dan berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Hal yang tidak kalah penting bagi Feber adalah kecintaan Kamaruddin terhadap seni dan kebudayaan, khususnya budaya Batak.
Bagi mereka, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari identitas yang perlu dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui kegiatan seni, musik, seminar, dan diskusi, mereka memiliki ruang untuk membicarakan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada masyarakat.
Feber melihat sisi tersebut sebagai bagian dari karakter Kamaruddin yang mungkin tidak selalu tampak di tengah pemberitaan mengenai perkara hukum dan perdebatan publik.
“Kalau sudah bicara tentang hukum, politik, seni, dan budaya Batak, beliau sangat antusias. Masih banyak kenangan dan pengalaman yang saya miliki bersama beliau. Tidak semuanya bisa diceritakan dalam satu kesempatan,” kata Feber.
Bagi Feber, mengenang Kamaruddin berarti mengingat manusia secara utuh, bukan hanya sosok yang dikenal publik melalui pemberitaan, tetapi juga seorang sahabat yang pernah berbagi cerita, menyumbangkan gagasan, menikmati musik, serta terlibat dalam berbagai kegiatan bersama.
Kepedulian yang Dirasakan dalam Kegiatan Sosial
Di antara banyak kenangan yang disimpan Feber, ada satu hal yang secara khusus ia ingat, yakni kepedulian Kamaruddin terhadap kegiatan yang diselenggarakannya.
Feber menuturkan, Kamaruddin termasuk sosok yang senang membantu dan memberikan dukungan, termasuk ketika Feber mengadakan kegiatan tertentu. Bantuan tersebut, menurutnya, menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti bagi dirinya dan kegiatan yang sedang dijalankan.
Salah satu kenangan yang masih diingatnya adalah ketika Kamaruddin turut membantu kegiatan bertajuk “Senandung Rindu Bonapasogit” yang diselenggarakan bersama Ormas Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI), organisasi yang saat ini dinakhodai Feber Manalu.
Dukungan itu menjadi bagian dari perjalanan kegiatan yang berupaya merawat kerinduan terhadap kampung halaman, mempererat persaudaraan, serta memberikan ruang bagi seni dan kebudayaan Batak.
Bagi Feber, nilai bantuan tersebut tidak semata-mata terletak pada besarnya dukungan yang diberikan. Lebih dari itu, perhatian Kamaruddin menunjukkan bahwa hubungan mereka tidak hanya terjalin melalui percakapan atau pertemuan, tetapi juga melalui tindakan nyata ketika ada kegiatan yang membutuhkan dukungan.
“Beliau juga senang berdonasi dan membantu biaya ketika saya membuat kegiatan. Terakhir yang masih saya ingat, beliau membantu kegiatan ‘Senandung Rindu Bonapasogit’ bersama FBBI. Hal-hal seperti itu tentu tidak akan mudah saya lupakan,” ungkapnya.
Kenangan tersebut semakin memperkuat kesan Feber terhadap Kamaruddin sebagai sahabat yang tidak hanya hadir dalam percakapan, tetapi juga memberikan dukungan bagi kegiatan yang dianggapnya bermanfaat.
Kepergian yang Menyisakan Banyak Cerita
Bagi Feber Manalu, kepergian Kamaruddin Simanjuntak menyisakan banyak cerita yang belum sempat disampaikan kembali secara langsung. Ada rencana podcast yang tidak terlaksana, obrolan yang belum sempat dilanjutkan, serta kemungkinan pertemuan yang kini hanya tinggal harapan.
Namun, ia menyadari bahwa kehidupan memiliki batas dan tidak semua rencana dapat diwujudkan sesuai keinginan manusia.
Di tengah kesedihan itu, Feber memilih mengenang sahabatnya melalui berbagai pengalaman yang pernah mereka lalui bersama. Mulai dari bernyanyi dalam acara seni, berbincang di panggung talkshow Horas Bangso Batak, berdiskusi tentang politik dan kebudayaan, hingga saling mendukung dalam kegiatan sosial.
Bagi Feber, perjalanan hidup Kamaruddin meninggalkan kesan tersendiri. Ia mengenal sahabatnya sejak masa ketika nama Kamaruddin belum sebesar sekarang, menyaksikan bagaimana kehidupan membawa mereka ke berbagai pengalaman, hingga akhirnya kesibukan dan jalan hidup membuat pertemuan semakin jarang.
Kini, ketika perpisahan itu datang, semua kenangan tersebut menjadi sesuatu yang berharga.
Feber juga berharap agar segala kebaikan yang pernah dilakukan Kamaruddin semasa hidupnya dapat dikenang oleh keluarga, sahabat, dan orang-orang yang pernah merasakan kehadirannya.
Ia menyampaikan penghormatan terakhir kepada sahabat yang pernah berbagi perjalanan dengannya itu. Baginya, kematian memang mengakhiri perjumpaan secara fisik, tetapi tidak serta-merta menghapus kenangan dan persahabatan yang telah tertanam dalam hati.
“Selamat jalan, sahabatku. Terlalu banyak cerita dan kenangan yang pernah kita lalui bersama. Ada rencana yang belum terwujud, ada obrolan yang belum sempat kita lanjutkan, dan ada pertemuan yang kini hanya tinggal kenangan. Namun, semua itu akan tetap tersimpan dalam ingatan saya,” tuturnya.
Selamat Jalan, Sang Fenomenal
Kepergian Kamaruddin Simanjuntak menjadi momen bagi Feber Manalu untuk kembali merenungkan arti persahabatan, perjalanan hidup, dan waktu yang tidak pernah dapat diputar kembali.
Di mata Feber, Kamaruddin bukan hanya seorang figur publik yang dikenal karena keberaniannya dalam persoalan hukum. Ia juga merupakan sahabat yang memiliki kecintaan terhadap seni, ketertarikan pada budaya Batak, serta kepedulian terhadap kegiatan yang dijalankan orang-orang di sekitarnya.
Kenangan tentang dirinya akan tetap hidup melalui cerita-cerita yang diwariskan, pertemanan yang pernah terjalin, dan pengalaman yang tidak mungkin terulang dengan cara yang sama.
Bagi mereka yang pernah mengenalnya secara dekat, setiap kenangan memiliki makna tersendiri. Ada tawa, percakapan, perbedaan pandangan, rencana masa depan, hingga bantuan yang diberikan dengan tulus. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang akan terus dikenang, meskipun sosok yang menjadi bagian di dalamnya telah berpulang.
Feber Manalu pun menutup kenangannya dengan ungkapan perpisahan yang penuh haru.
“Selamat jalan, sang fenomenal. Terima kasih atas persahabatan, kebersamaan, dan semua kenangan yang pernah kita lalui. Kini, tidak ada lagi kesempatan untuk ngopi bersama atau berbincang panjang seperti dahulu. Namun, cerita tentangmu akan tetap hidup dalam ingatan kami.
Bercerita dan berdendanglah bersama para malaikat di keabadian. Semoga Tuhan menerima segala kebaikanmu, mengampuni segala kekhilafanmu, serta memberikan penghiburan dan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Selamat jalan, Lae Kamaruddin Simanjuntak. Surgalah tempatmu.
Bagi Feber Manalu, perpisahan ini bukan sekadar kehilangan seorang sahabat, melainkan juga berakhirnya satu babak perjalanan panjang yang penuh cerita. Sebuah persahabatan yang bermula dari dunia seni, tumbuh melalui diskusi dan perjuangan, serta meninggalkan kenangan yang akan terus hidup meski waktu terus berjalan.
Selamat jalan, Kamaruddin Simanjuntak. Namamu boleh pergi dari panggung kehidupan, tetapi kenangan tentangmu akan tetap tinggal di hati mereka yang pernah berjalan bersamamu.***
Editor : Toni Limbong











